Pindah Ibukota
Posted by admin on 29 September 2010

Sumber: Rakyat Merdeka

HARI-HARI ini ibukota negara sepertinya sudah pindah. Bukan lagi wacana.

Selama libur lebaran, Jakarta relatif sepi, jalanan lancar, polusi berkurang, kantor-kantor tutup dan denyut nadi bisnis melambat, bahkan nyaris tak berdetak. Ketika isu lama ini kembali ditegaskan SBY, banyak yang kemudian kasak-kusuk mencari bocoran dimana ibukota negara yang baru tersebut.

Sama seperti di era Orde Baru, ketika ada isu ibukota akan dipindahkan ke Jonggol, Bogor, Jawa Barat, para makelar dan mafia tanah serta pemilik modal langsung bermain-tanah di kawasan tersebut. Setelah harga melambung, ibukota batal dipindah. Kalau saat itu rencana pemindahan ibukota (di manapun tempatnya) benar-benar diseriusi, sekarang Jakarta pasti lebih nyaman dan manusiawi. Namun, para pejabat saat itu hanya benvacana. Pemindahan ibukota hanya jadi permainan para pemain tanah.

Menjadikan Jakarta lebih nyaman pernah diupayakan oleh Sutiyoso, gubernur saat itu. Sutiyoso yang belakangan disebut-sebut sebagai bakal calon presiden (atau wapres), antara lain membangun semua moda transportasi, termasuk transportasi sungai. Namun, ketika Sutiyoso lengser, nyaris semuanya tak berfungsi maksimal. Bahkan, monorel yang tiangnya menghiasi jalanan ibukota hanya menjadi monumen sebuah hasrat tak sampai. Busway, yang dinilai lumayan berhasil, juga tak bisa maksimal.

Membuat ibukota Jakarta senyaman mungkin, atau kalau akhirnya ibukota negara dipindah, harus menjadi pemikiranyang benar-benar serius. Bukan sekadar wacana dan permainan opini. Karena, Jakarta sudah benar-benar tidak manusiawi. Bayangkan, akibat kemacetan yang sangat parah hampir setiap hari, kerugian mencapai sekitar Rp 12,8 triliun per tahun, yang berasal dari biaya operasional kendaraan, kesehatan masyarakat, serta kerugian waktu.

Selain itu. kecepatan rata-rata kendaraan di Jakarta hanya bisa mencapai 8,3 kilometer perjam, padahal mestinya bisa 20 kilometer per jam. Kalau taksegera dipecahkan, bukan tidak mungkin, seperti yang disebut-sebut selama ini bahwa pada 2014, begitu keluar rumah, langsung dihadang macet!

Saat memikirkan Jakarta lebih serius, bukan sekadar wacana. Kalau perlu, ada kementerian khusus yang menangani ibukota Jakarta. Ketika membayangkan Jakarta yang nyaman, saya membayangkan, seminggu lagi Jakarta kembali "normal". Penghuninya bertambah, macetnya kian gila dan polusi serta tingkat kri-minalnya meningkat.Wow! Kalau begitu, ayo sehatkan Jakarta, serahkan kepada ahlinya.