'Investment Grade' Tak Jamin Investasi Sektor Riil
Posted by admin on 19 January 2012

Sumber: Inilah.com 11 Januari 2012

INILAH.COM, Jakarta - Kategori investment grade ternyata belum menjadi jaminan banjirnya investasi ke Indonesia. Kemampuan Indonesia dalam memenuhi energi yang masih minim serta birokrasi yang ruwet dan rawan korupsi akan menjadi penghadang perkembangan investasi asing.

Guru Besar Ekonomi Universitas Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, kategori investment grade yang diberikan Fitch Rating belum bisa menjadi jaminan meningkatnya investasi asing langsung (FDI) di Indonesia. "Investment grade tidak serta merta menaikkan investasi, belum tentu seperti lancarnya jalan tol," tuturnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (11/1).


Extended News

INILAH.COM, Jakarta - Kategori investment grade ternyata belum menjadi jaminan banjirnya investasi ke Indonesia. Kemampuan Indonesia dalam memenuhi energi yang masih minim serta birokrasi yang ruwet dan rawan korupsi akan menjadi penghadang perkembangan investasi asing.

Guru Besar Ekonomi Universitas Ahmad Erani Yustika mengungkapkan, kategori investment grade yang diberikan Fitch Rating belum bisa menjadi jaminan meningkatnya investasi asing langsung (FDI) di Indonesia. "Investment grade tidak serta merta menaikkan investasi, belum tentu seperti lancarnya jalan tol," tuturnya kepada INILAH.COM di Jakarta, Rabu (11/1).

Menurutnya, ada beberapa hal pokok yang menjadi kendala peningkatan investasi saat ini yaitu belum stabilnya jaminan pasokan energi, minimnya infrastruktur, dan birokrasi yang masih ruwet. "Bukan soal pasokan energi saja, tapi infrastruktur termasuk untuk listrik masih menjadi masalah," ungkapnya.

"Juga adanya praktik korupsi, seperti laporan Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya menilai tingginya korupsi di Indonesia yang menyebabkan daya saing investasi rendah," paparnya.

Untuk pasokan energi, ia mengakui, Indonesia memang masih minim terutama dalam suplai gas untuk kebutuhan industri. "Ini menjadi masalah karena gas kita sebagian besar diekspor. Sementara untuk kebutuhan dalam negeri malah impor. Ini harus dibenahi," ujarnya.

Direktur The Asia Foundation untuk Program Ekonomi Indonesia Erman Rahman menyatakan, Indonesia tidak memiliki potensi penuh dalam mendukung peningkatan investasi karena adanya masalah energi dan infrastruktur. "Sebuah bisnis tidak dapat tumbuh ketika menghadapi pemadaman beberapa kali seminggu," tuturnya seperti dikutip dari CNCB.com.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan yayasan tersebut sepanjang 2010-2011, sekitar setengah dari 13.000 perusahaan mengalami pemadaman listrik setidaknya tiga kali sepekan. Dan berdasar data Bank Dunia, untuk 2011 Indonesia menduduki peringkat 161 dari 183 negara dalam kemudahan bisnis terkait kemudahan mendapatkan pasokan listrik. Angka ini turun 3 peringkat dari tahun sebelumnya. Posisi Indonesia lebih buruk dari Kongo dan Albania.

Ahmad Erani menilai, pemerintah harus fokus dalam memprioritaskan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan pertumbuhan investasi tersebut. "Misalnya, lamanya waktu pemberian izin usaha seperti yang dilakukan Singapura, sangat cepat sekali. Itu saja bila diselesaikan dampaknya bisa sangat besar sekali untuk investasi. Pemerintah harus prioritaskan mana yang mau diperbaiki," tandasnya.