Air Bersih PR Gubernur
Posted by admin on 22 September 2012

Sumber: Pontianak Post, 16 September 2012

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Adrinof Chaniago mengatakan gubernur yang terpilih harus mampu mengatasi persoalan ketersediaan air bersih di Kalbar.

Berbicara soal ketersediaan air bersih sangat terkait dengan kondisi Sungai Kapuas. Gubernur harus punya  komitmen politik untuk mengurus sungai Kapuas.

Terutama restorasi sungai Kapuas, ujar Adrinof yang ditemui di Pontianak, kemarin. Menurut Adrinof, belum ada kandidat gubernur yang fokus untuk memperbaiki kondisi air sungai ini.


Extended News

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Adrinof Chaniago mengatakan gubernur yang terpilih harus mampu mengatasi persoalan ketersediaan air bersih di Kalbar.

Berbicara soal ketersediaan air bersih sangat terkait dengan kondisi Sungai Kapuas. Gubernur harus punya  komitmen politik untuk mengurus sungai Kapuas.

Terutama restorasi sungai Kapuas, ujar Adrinof yang ditemui di Pontianak, kemarin. Menurut Adrinof, belum ada kandidat gubernur yang fokus untuk memperbaiki kondisi air sungai ini.

Memiliki sungai yang sangat panjang, tetapi kebanyakan orang Pontianak masih minum air hujan. “Pada saat kemarau air ledeng terasa payau. Itu menunjukkan ada yang salah dalam penyediaan air bersih di Kalbar, katanya.

Pria kelahiran Padang, Sumatera Barat, 52 tahun lalu itu menambahkan, sungai Kapuas merupakan aset masa depan Kalbar. Sungai memiliki potensi yang besar baik sebagai sumber air baku, pariwisata, transportasi, hingga berbagai kegiatan ekonomi. Tetapi potensi ini menurut Adrinof kerap diabaikan.

Kalbar itu memiliki banyak sungai, jumlahnya mencapai ratusan. Tetapi kondisi sungainya semakin parah. Air semakin keruh dan pencemaran terus meningkat,” katanya.  Belajar dari berbagai negara yang juga memiliki banyak sungai seperti belanda, perancis, dan Thailand, mereka telah mampu memelihara sungainya sehingga memberikan banyak manfaat.

Penggagas visi seorang penggagas Visi Indonesia 2033 mengatakan telah memberikan berbagai masukan pada Gubernur Kalimantan Tengah Teras Narang mengenai pembangunan kota pintar tepi sungai.  Sama dengan Kalbar,

Kalteng juga memiliki banyak sungai. Konsep ini menurutnya bisa direplikasi di Kalbar. Konsep ini berupa pembangunan kota-kota kecil di tepian sungai. Kota-kota itu akan terus tumbuh tetapi dengan konsep ramah lingkungan.

“Kita bisa melihat bagaimana kota-kota di eropa yang berada di pinggir-pinggir sungai itu bisa tumbuh tetapi kondisinya sungainya bisa terjaga,” ujarnya. Di lokasi itu juga di bangun ruang publik, tempat orang santai, tempat baca, dan juga tempat ngopi di sana.

Tetapi sebelumnya harus ada perda yang mengatur pembangunan tepian sungai ini. Perda ini harus mengandung sejumlah aturan, misalnya soal bagaimana menjaga kebersihan sungai, badan yang bertanggungjawab mengurus sungai, dll.Perbaikan kondisi sungai Kapuas harus dimulai dari hulu.

Dari hulu-lah air sungai Kapuas berasal. Jika kondisi hutan di hulu rusak, maka akan sangat berdampak pada kondisi hilir. Artinya perbaikan kondisi sungai harus dilakukan secara menyeluruh. Hulu, tengah, hingga hilir. (her)