Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Belum Terbuka
Posted by admin on 18 October 2012

Sumber: http://www.republika.co.id, 15 Oktober 2012

Pengamat Ekonomi Econit (Economics, Industry and Trade) Advisory Group Hendri Saparini menilai pertumbuhan ekonomi di Indonesia belum mengarah ke inklusif yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas.

"Pertumbuhan ekonomi yang mengikutsertakan semakin banyak rakyat dalam proses produksi dan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945, sehingga tidak hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmatinya," kata Hendri dalam acara Seminar Nasional 'Mewujudkan Pertumbuhan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan' di Jakarta, Senin (15/10).


Extended News

Pengamat Ekonomi Econit (Economics, Industry and Trade) Advisory Group Hendri Saparini menilai pertumbuhan ekonomi di Indonesia belum mengarah ke inklusif yaitu pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkualitas.

"Pertumbuhan ekonomi yang mengikutsertakan semakin banyak rakyat dalam proses produksi dan sesuai dengan pasal 33 UUD 1945, sehingga tidak hanya kalangan tertentu saja yang bisa menikmatinya," kata Hendri dalam acara Seminar Nasional 'Mewujudkan Pertumbuhan yang Berkeadilan dan Berkelanjutan' di Jakarta, Senin (15/10).

Ia mengatakan Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi ini tidak dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia, kebanyakan di Pulau Jawa, terutama Jabodetabek.

Hendri mengungkapkan indikasi mengapa dia menyebut pertumbuhan ekonomi yang dialami Indonesia belum inklusif, yakni meski pertumbuhan ekonomi meningkat namun tingkat kemiskinan dan angka pengangguran pun semakin meningkat.

"Orang miskin masih banyak, banyak provinsi pertumbuhan tinggi tapi pengangguran dan kemiskinan juga tinggi, bahkan lebih dari Kabupaten di seluruh indonesia tetap tinggi meskipun pertumbuhan di atas 6 persen," ujar Hendri.

Karena itu, pemerintah harus memilih pertumbuhan ekonomi yang mengarah ke inklusif atau demokrasi ekonomi yang bisa dirasakan oleh semua masyarakat. "Pertumbuhan ekonomi inklusif adalah mengalokasikan sumber daya yang tepat dan mampu menciptakan link antara makro dan mikro," tuturnya.

Hendri kemudian memberi contoh Cina yang pada 1985 memiliki tingkat kemiskinan 65 persen, namun berhasil menurunkannya pada 2007 hingga tinggal tujuh persen.

"Artinya ada strategi pembangunan ekonomi yang tidak hanya menurunkan, tetapi juga menghilangkan orang miskin. Bahkan China berhasil mengangkat status mereka yang miskin ke menengah," ucapnya.

Meskipun demikian, Hendri pun mengakui bahwa strategi di Cina tidak bisa serta merta diterapkan di Indonesia karena ada perbedaan sistem kenegaraan, politik, dan ekonomi.

Namun, Hendri kembali menekankan pentingnya reorientasi strategi pembangunan. Pendapat senada juga disampaikan Ketua Tim Visi Indonesia 2033 Andrinof Chaniago. Ia mengatakan ada ketimpangan dalam pembangunan di Indonesia.

Secara ekonomi besar tapi menggelembung karena pondasinya rapuh, ketimpangan tersebut menjadikan kecemburuan antarwilayah, antarhubungan sosial serta antarsektor. "Ada keresahan pemerataan pembangunan. Ketidakmerataan pembangunan yang banyak dirasakan daerah ini bisa berimplikasi jauh," ujarnya.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara